I. PENDAHULUAN
Keraguan
adalah pembahasan yang telah ada sejak awal sejarah filsafat Barat. Ia
muncul ketika banyak pertentangan. Pada awalnya ia dilawan, di
pertengahan ia di kompromikan, dan kini dibiarkan menjadi bagian dari
narasi-narasi yang ada. Keraguan didefinisikan sebagai ketidakpastian
tentang kebenaran sesuatu; mempersoalkan kebenaran suatu gagasan atau
menganggapnya dapat dipersoalkan; condong akan kesalahan suatu
pernyataan; kebimbangan antara ya atau tidak, antara pendapat yang
bertentangan, tanpa menyetujui yang satu atau yang lainnya.
Keraguan
Terhadap Agama muncul karena banyaknya agama yang ada di dalam
masyarakat, dan masing –masing agama memiliki doktrin yang saling
mengklaim bahwa agamanyalah yang paling benar. Doktrin antar agama itu
saling serang di dalam masyarakat, bahkan pertentangan antara ajaran
agama dengan budaya-budaya lain juga sering terjadi. Kondisi ketika
pertentangan-pertentangan itu tidak dapat di damaikan, lalu kebenaran
dan kesalahan tidak terlalu menjadi perhatian, karena masing-masing
disokong dengan argumentasi-argumentasi yang dianggap sama kuat maka
akan menimbulkan kebenaran itu menjadi bias. Pertemuan antara ajaran
agama dan cabang-cabang ilmu lain, pembuktian secara ilmiah
doktrin-doktrin agama dengan kemajuan ilmu pengetahuan modern juga
merupakan faktor kemunculan pandangan yang meragukan kebenaran agama.
Padahal kita meyakini bahwa kebenaran agama mestinya yang bersifat
absolut.
II. PEMBAHASAN
1. Naturalisme
Naturalisme
berarti bahwa manusia adalah bagian dari alam dan alam itu sendiri
adalah habitat manusia. Struktur manusia berasal dari alam, dan struktur
yang dimaksud ialah jasmani, indera, dan berbagai keperluan dimana
manusia tidak bisa memisahkan dirinya dari faktor-faktor natural atau
mengabaikannya. Problem yang dihadapi oleh manusia modern, terutama oleh
para ilmuwan adalah apakah agama bisa sejalan dengan teori-teori ilmiah
? sebab, ilmu menekankan pada pembahasan kepada alam fisik, sedangkan
agama membahas hal di luar fisik. Ilmu menyelidiki natur sedangkan agama
membahas supernatur. Ilmu tidak akan dapat tersusun kecuali atas dasar
hukum alam yang tetap dan sistem yang sama. Ilmu mengkaji secara ilmiah
hubungan sebab dengan akibat. Hubungan sebab dengan akibat adalah suatu
hubungan yang tetap dan pasti.
Ibn Rusyd pernah mengemukakan bahwa
hubungan sebab dan akibat adalah suatu hubungan yang tetap dan pasti
karena tanpa kepastian hubungan sebab-akibat tidak akan ditemukan teori
yang ilmiah. Selain itu jika semua benda tidak memiliki ciri tertentu,
maka seseorang akan sulit memberikan definisi terhadap benda itu,
seperti api sifatnya membakar. Kalau sifat-sifat membakar tidak ada pada
api, maka api sâm dengan benda lain dan semua benda alam menjadi sama,
padahal setiap benda memiliki ciri-ciri khusus[1]. Ilmu mempunyai
konsep-konsep yang pasti tentang alam fisik, sementara agama juga
memiliki doktrin-doktrin yang pasti tentang alam metafisik yang sulit di
buktikan secara kasat mata. Sehingga dalam paham naturalisme tidak
mengenal istilah Tuhan, mukjizat, surga, neraka dan do’a.
Ahli
kedokteran prancis Claude Bernard, mengatakan bahwa syarat utama yang
harus dimiliki oleh seorang ilmuwan adalah dia harus memiliki pemikiran
yang merdeka secara mutlak berdasarkan atas kesangsian filsafat.
2. Humanisme dan Eksistensialisme
Istilah
Humanisme berasal dari humanitas, yang berarti pendidikan manusia.
Humanisme menegaskan bahwa manusia adalah ukuran segalka sesuatu. Pico
salah seorang tokoh humanisme berkata “ Manusia dianugrahi kebebasan
memilih oleh Tuhan dan menjadikannya pusat perhatian dunia. Dengan
posisi itu dia bebas memandang dan memilih yang terbaik. Lain halnya
dengan Valla, salah seorang tokoih humanisme. Ia menolak superioritas
agama atas manusia. Manusia berhak menjadi dirinya dan sekaligus
menentukan nasibnya. Tujuan manusia adalah menikmati hidup dan
bersenang-senang[2].
Humanisme dan eksistensialisme erat sekali
hubungannya. Eksistensialisme adalah puncak dari perkembangan Humanisme.
Eksistensialisme mengakui bahwa eksistensi mendahului esensi (hakikat).
Eksistensialisme adalah paham yang berpusat pada manusia individu yang
bertanggung jawab atas kemauannya yang bebas tanpa memikirkan secara
mendalam mana yang benar dan mana yang tidak benar[3].
Manusia
adalah individu yang bebas dan menghilangkan peranan Tuhan dalam
kehidupannya. Eksistensialisme yang ekstrim tidak hanya sampai pada
ketidakpercayaan kepada Tuhan, bahkan menyerang Tuhan. Nietzsche, salah
seorang tokoh ekstensialisme, mengatakan bahwa Tuhan telah mati dan
terkubur. Karena itu para penganut agama tak perlu takut akan dosa.
Manusia bebas untuk menentukan nasibnya dan menjadi manusia super.
Kebajikan yang utama adalah kekuatan, segala yang baik hárus kuat.
Sebaliknya, yang lemah pasti buruk. Perang menurutnya adalah gejala yang
wajar untuk menentukan siapa yang terkuat dảri berbagai bangsa[4].
Ada pun prinsip-prinsip dari humanisme adalah:
- Manusia adalah standar dan kriteria segala sesuatu.
- Penekanan
secara berlebihan kepada kebebasan dan ikhtiar manusia akibat kebencian
kepada intimidasi dan kediktatoran para penguasa abad pertengahan.
- Pengingkaran terhadap status para rohaniwan sebagai perantara antara Tuhan dan manusia.
- Penyerahan sepenuhnya kekuasaan untuk penentuan nasib
- Manusia adalah sentral alam semesta.
- Akal manusia sejajar dengan akal Tuhan.
- Penolakan
sistem-sistem tertutup filsafat, prinsip dan keyakinan-keyakinan agama,
serta argumentasi-argumentasi ekstraktif mengenai nilai-nilai
kemanusiaan.
- Penolakan terhadap praktik-praktik asketisme, dan
perhatian mesti dipusatkan kepada faktor jasmani dan
kenikmatan-kenikmatan fisik.
- Akal manusia adalah pimpinan manusia, dan status agama sebagai komando harus ditiadakan.
10. Kenikmatan-kenikmatan jasmani adalah tujuan final segala aktivitas manusia.
11. Manusia adalah binatang politik.
12.
Dunia politik harus diceraikan dari segala pandangan metafisik atau
agama, dan manusia adalah aktor yang memiliki wewenang mutlak dalam
dunia politik.
13. Aktualisasi diri, pemeliharan diri dan peningkatan diri mesti dipelajari dalam setiap individu.
14. Manusia adalah pencipta lingkungannya dan bukanlah hasil lingkungannya.
15. Manusia harus terkonsentrasi sepenuhnya kepada dirinya.
16. Kelayakan kepribadian setiap individu bisa terbentuk tanpa keimanan kepada Tuhan.
Ideologi-ideologi dibawah ini adalah ajaran-ajaran yang terbentuk berdasarkan paham humanisme:
- Komunisme,
karena di dalam ideologi ini humanisme bisa menghapus keterasingan
manusia dari dirinya akibat kepemilikan swasta dan sistem masyarakat
kapitalisme.
- Pragmatisme, karena pandangan yang menjadikan manusia sebagai orientasi, menjadikan manusia sebagai kriteria segala sesuatu.
- Eksistensialisme
yang telah memberikan argumentasi bahwa tidak ada satupun alam yang
sebanding dengan alam subyektivitas manusia.
3. Problem Kejahatan
Adanya
kejahatan di jagad raya merupakan problem yang tidak henti-hentinya
diperdebatkan, terutama oleh agamawan dan ilmuwan. Mengapa kejahatan itu
ada, padahal Tuhan pencipta, Maha Kuasa dan sumber kebaikan. Mungkin
Tuhan berkehendak untuk menghilangkan kejahatan dan Dia tidak mampu;
Atau Dia mampu tetapi tidak berkehendak; Atau Dia sebenarnya berkehendak
tetapi tidak mampu. Jika Dia menghendaki tetapi tidak mampu berarti Dia
lemah. Jika Dia mampu tetapi tidak berkehendak berarti Dia irihati.
Jika Dia tidak mampu dan tidak mauberarti Dia lemah. Jika Dia
berkehendak dan mampu, hal mana sesuai dengan sifat Tuhan maka dari
manakah datangnya kejahatan itu, dan mengapa Dia tidak menghilangkannya.
Maka
timbul suatu pertentangan dalam diri Tuhan, yaitu Tuhan sebagai sumber
kebaikan dan sekaligus tuhan sebagai sumber kejahatan. Hal ini tidak
benar secara logika. Susunan argumen atheis adalah,
- Jika Tuhan maha baik, tentu Dia akan membasmi kejahatan,
- Jika Tuhan maha kuasa, tentu Dia mampu menghancurkan kejahatan,
- Tapi kejahatan belum terhapus,
- Karena itu, Tuhan tidak ada.
Menurut
mu'tazilah, kejahatan tidak berasal dari tuhan. Tetapi berasal dari
hukum alam juga dari manusia yang sudah di beri akal sehingga manusia
mampu membedakan yang baik dan yang buruk. Kemampuan akal ini menjadikan
dia bebas memilih dan sekaligus bertanggung jawab atas pilihan
tersebut.
Menurut Geddes MacGregor, kejahatan adalah bagian yang tidak terpisahkan dari kebaikan yang lebih tinggi
Menurut
Asy'ariah, keyakinan tentang segala sesuatu yang terjadi tidak lepas
dari hikmah Tuhan. Karena keterbatasan manusia tidak mampu mnengetahui
semua hikmah yang ada. Hanya sedikit yang diketahui sedangkan yang belum
di ketahui sangat banyak. Ibaratnya seperti tukang kebun yang selalu
memotong rumput tetapi tidak memotong tanamannya. Kalau dilihat dari
aspek rumputnya tukang kebun tidak adil. Namun kalau di lihat
keseluruhan, rumput memang seharusnya di potong agar kebun terlihat
indah[5].
4. Pluralitas Agama
Keragaman
agama merupakan fakta yang tidak bisa dibantah. Munculnya berbagai
agama pada masa sebelumnya secara historis tidak bisa menghapus agama
yang muncul pada masa sesudahnya, begitu juga sebaliknya. Fakta ini
meniscayakan adanya suatu pengakuan terhadap keragaman keyakinan[6].
Namun setiap agama memiliki sistematika atau konstruksi berupa modus
yang dikembangkan oleh seseorang dalam memahami doktrin agama. Agama
memang meniscayakan pada suatu modus pemahaman agar kehendak Tuhan yang
terdapat dalam doktrin agama bisa dipahami dan dilaksanakan oleh
manusia. Namun, tradisi penafsiran yang terus berkembang pada semua
agama terhadap kodifikasi firman Tuhan, tentu banyak menghadapi
kesulitan aktualisasi ketika dijembati dengan penafsiran pemahaman
manusia. Kemudian perbedaan pemahaman ini menghasilkan pluralitas dalam
keyakinan atau pluralitas agama atau kemajemukan agama.
Konstruksi
itu rupanya juga berpengaruh terhadap agama lain, katakanlah antara
Islam dan Kristen, Budha dan Hindu, Hindu dan Islam, dan seterusnya.
Dalam konstruksi selalu ada keinginan membandingkan antara agama sendiri
dengan agama lain yang kemudian berujung pada suatu klaim kebenaran
(truth claim) terhadap
keunggulan dalam hal otentisitas. Mudah ditebak arah klaim kebenaran
tersebut. Pasti mengarah pada agamanya sendiri. Jika semua agama
mengklaim bahwa agamanya yang paling benar, maka akan timbul juga
pertanyaan mana agama yang paling benar dari sekian agama yang ada?
Apakah semua agama itu benar, atau semuanya tidak benar? Kalau semua
agama menklaim agamanya yang paling benar, bagaimana mengetahui agama
yang paling benar?
Di satu sisi, klaim kebenaran tersebut
memperkokoh keyakinan seseorang terhadap doktrin agamanya. Tidak bisa
dibayangkan bagaimana status keberagamaan seseorang tanpa ditopang oleh
suatu klaim. Namun, dilain pihak juga akan menimbulkan pertanyaan mana
doktrin agama yang paling benar ? dari keterbatasan manusia untuk
mengetahui agama yang paling benar diantara agama-agama yang ada,
lahirlah sikap “terbaik” yang mentolerir semua agama yang ada. berpijak
pada pemikiran bahwa semua agama adalah baik, seorang pemeluk agama
tidak boleh meyakini bahwa agamanya adalah yang terbaik, tapi harus
meyakini bahwa semua Agama adalah yang terbaik, yang mereka katakan
sebagai kesetaraan agama. Yang biasa kita kenal dengan Pluralisme.
III. PENUTUP
Barat
memiliki trauma terhadap agama. Dalam masa kegelapan Eropa, Sains yang
bertentangan dengan doktrin ataupun ajaran Gereja akan ditolak dan
ilmuwan yang bersangkutan akan dihukum mati, sejak saat itu di barat
mulai berkembang ideologi serta pemikiran-pemikiran tentang Naturalisme,
materialisme, Rasionalisme, Empirisme, Sekularisme, dan paham serta
pandangan yang lainnya[7]. Melalui pemikiran tersebut maka Barat
memandang agama atau sistem kepercayaan sebagai sesuatu yang irasional
dan tidak ilmiah.
Namun, sejarah mencatat ketika barat dalam masa
kegelapan, para ilmuwan muslim mampu mengembangkan berbagai banyak ilmu
pengetahuan seperti astronomi, geologi, biologi, kedokteran, aljabar
atau matematika serta ilmu-ilmu yang lainnya. Semuanya menunjukkan bahwa
keyakinan atau agama mempengaruhi pola fikir dan cara pandang kepada
para ilmuwan tersebut dalam mencari dan mengembangkan sebuah ilmu
pengetahuan atau sains. Islam pada masa itu yang begitu maju dengan
peradabannya tidak bisa terlepas dari khazanah serta tradisi keilmuan
Islam seperti Fiqh, Kalam, Tasawwuf dan Mantiq. Peradaban Barat Modern
yang berkembang sampai saat ini pun tak lepas dari usaha mereka dalam
menerjemahkan berbagai karya yang dikembangkan ilmuwan muslim.
Ironisnya, ketika ilmu telah mereka dapatkan, mereka menganggap agama
sebagai benalu dan candu.
Sebagaimana halnya dalam paham Humanisme dan Eksistensialisme, manusia cenderung mendewakan dirinya.
Sementara
Problem Kejahatan adalah sebuah hak akal dalam memilih baik dan buruk,
dimana setiap individu dalam menilai baik dan buruk itu tidaklah
semuanya sama. namun Allah yang memegang kuasa mutlak atas kebenaran
itu, menciptakan alam semesta ini dengan menciptakan pula hukum Alam.
sehingga setiap pilihan manusia pasti ada konsekuensinya.
Al-qura’an
menjawab problem ini sebagai suatu proses pertaubatan untuk menjadi
pribadi yang lebih baik. Seperti halnya sabda Rasul SAW
“Demi Dzat
yang jiwaku ada di tangan-Nya, seandainya kalian tidak pernah berbuat
dosa, niscaya Allah akan mengganti kalian dengan mendatangkan suatu kaum
yang kemudian kaum tersebut berbuat dosa, kemudian mereka meminta ampun
kepada Allah, dan Allah akan mengampuni mereka” (HR. Muslim).
Rasulullah
SAW bersabda “Setiap anak Adam pasti sering melakukan dosa dan
kesalahan, dan sebaik-baik orang yang berdosa adalah orang yang rajin
bertaubat”. (HR. Tirmidzi, Ibnu Majah,
hasan)
Tapi jangan lupa,
“Ketahuilah, sesungguhnya Allah Maha Keras Siksaannya dan (ketahuilah) bahwa Allah Maha Pengampun dan Maha Penyayang.” (QS. Al Maidah : 98)
Solusi Islam terhadap adanya pluralitas agama adalah dengan mengakui perbedaan dan identitas agama masing-masing (
lakum dinukum wa liya diin).
Tapi solusi yang ditawarkan paham pluralisme agama lebh cenderung
menghilangkan perbedaan dan identitas agama-agama yang ada. Jadi
menganggap pluralisme agama sebagai
sunnatullah adalah klaim yang berlebihan dan tidak benar.
Muhammad Khafadho
[1] Ibn Rusyd
Tahafut al-Tahafut, (Kairo: Dảr al-Ma’arif, 1971) 3 Nicola Abbagnano, “Humanisme” dalam,
The Ecylopedia of philosophy dari
Filsafat Agama oleh Amsal Bakhtiar
[2] Nicola Abbagnano, “Humanisme” dalam,
The Ecylopedia of philosophy dari
Filsafat Agama oleh Amsal Bakhtiar
[3]
http://id.wikipedia.org/wiki/eksistensialisme
[4] Amsal Bakhtiar,
Filsafat Agama Wisata Pemikiran Dan Kepercayaan Manusia. Hal.148
[5] Amsal Bakhtiar,
Filsafat Agama Wisata Pemikiran Dan Kepercayaan Manusia. Hal.160
[6] Syamsul Arifin makalah
Kontruksi Wacana Pluralisme Agama di Indonesia , Fakultas Agama Islam, Universitas Muhammadiyah Malang
[7] Hamid Fahmy Zarkasyi,
Liberalisme Pemikiran Islam: Gerakan Bersama Missionaris, Orientalis dan Kolonialis, (Ponorogo: Center for Islamic and Occidental Studies, 2007) hal. 10-11